PERSPEBSI Aceh Gelar Seminar Online Bertaraf Internasional

  • Bagikan
Presiden Federasi Bedah Saraf Dunia (WFNS, World Federation of Neurosurgery), Prof. Franco Servadei, Presiden WFNS. Foto : Doc Pri

Dikuti Oleh Berbagai Dokter Bedah Saraf Dunia

BANDA ACEH – Dalam rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan, Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) mengadakan kegiatan Pertemuan Ilmiah Tahunan dan Workshop yang diselenggarakan secara Daring di aula Kantor Gubernur Aceh, 24 sampai 25 Juli 2021.

Acara yang dibuka secara daring oleh Gubernur Aceh Ir. H. Nova Iriansyah, M.T. langsung dari laut Sabang diatas Kapal Motor Penyeberangan Aceh Hebat (KMP Aceh Hebat 2) tanpa ada hambatan.

Kegiatan ini sendiri dilaksanakan oleh Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (Perspebsi), dengan menunjuk Perspebsi Cabang Aceh sebagai panitia pelaksanaannya.

Prof. Franco Servadei, Presiden Federasi Bedah Saraf Dunia (WFNS, World Federation of Neurosurgery) yang berkebangsaan Italia dalam sambutannya, mengucapkan selamat serta kegembiraannya atas acara ini, meskipun komunitas Bedah Saraf dunia sedang mengalami cobaan akibat pandemi Covid-19.

“Walaupun kita saat ini lagi dilanda oleh Pandemi Covid-19, saya sangat mengaprisiasi atas terlaksanannya kegiatan yang sangat bergengsi ini,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua MPR RI Bambang Soesetyo S.E., MBA dalam sambutannya.

Acara ini sendiri dihadiri oleh ahli-ahli Bedah Saraf yang berasal dari seluruh Indonesia, diantaranya dari Kementerian Kesehatan (drg. Farichah Hanum, M.Kes/Ditjen Yankes), DPR Aceh (dr. Purnama SB, Sp.OG/Komisi V), Direktur RSUZA (dr. Isra Firmansyah, Sp.A) serta IDI Wilayah Aceh dan Kota Banda Aceh.

Pertemuan ilmiah bergengsi ini diisi oleh dokter dan profesor Bedah Saraf dalam dan luar negeri antara lain Malaysia, Dubai, Arab Saudi, USA, India, Swiss, Jerman, dan Jepang. Beberapa tokoh Bedah Saraf dunia ikut meramaikan acara ini seperti Saleem Abdul Rauf, guru besar Bedah Saraf Amerika yang telah menjadi visiting professor di lebih 100 negara, dan Debora Garozzo, Ketua Organisasi Bedah Saraf di Dubai yang telah berkecimpung di subspesialisasi Peripheral Nerve Surgery selama lebih dari 30 tahun.

Ketua Panitia DR. dr. Imam Hidayat, Sp.BS, FINPS mengatakan saya sangat berterimakasih atas antusiasme seluruh peserta, kesediaan para panelis/moderator baik dalam maupun luar negeri, juga terhadap dukungan masyarakat serta Pemerintah, dukungan dari lembaga legislatif dan tentunya Perpebsi Pusat.

Perlu diketahui PIT Bedah Saraf ini adalah yang pertama kalinya turut dihadiri oleh pejabat negara yakni Ketua MPR RI, pertama kali dilakukan daring, dan pertama kalinya diadakan di Aceh.

Selain dapat lebih mengenalkan budaya Aceh di dunia dan Indonesia, Imam berharap suksesnya kegiatan ini menjadi api semangat baru bagi ahli Bedah Saraf Indonesia khususnya Aceh agar tetap berkarya dan up to date meskipun di tengah pandemi Covid-19.

“Walaupun acara besar ini seyogianya dilaksanakan tahun 2020 silam secara tatap muka, namun tertunda karena pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia sehingga harus dilaksanakan secara virtual,” tuturnya.

Dalam pembukaan dan kata sambutan, Gubernur Aceh dan Presiden Bedah Saraf Indonesia serta Ketua MPR RI turut menyampaikan belasungkawa mendalam terhadap gugurnya ahli Bedah Saraf Indonesia semasa pandemi yang telah mencapai tujuh orang.

Ketua MPR RI, Bambang Soesetyo S.E., MBA. Foto : Doc Pri

Dalam kesempatan ini Ketua MPR RI Bambang Soesetyo S.E., MBA juga meminta agar pemerintah Indonesia memperhatikan fasilitas RS di Indonesia agar bisa setaraf dengan negara tetangga, dan perlunya dilakukan penyesuaian tarif BPJS khususnya terhadap operasi Bedah Saraf demi terpenuhinya di seluruh daerah di Indonesia.

Demikian pula halnya dengan Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah, MT yang sangat bersemangat mendukung kegiatan ini. Gubernur berterimakasih karena Aceh telah dipilih sebagai tuan rumah acara ilmiah ini.

Di Indonesia saat ini memiliki sekitar 400 orang ahli Bedah Saraf, dan di Aceh hanya memiliki 6 orang ahli Bedah Saraf, sementara RSUDZA yang merupakan pusat rujukan harus melayani 23 kabupaten di seluruh Aceh, jumlah pasien yang ditangani jauh lebih banyak.

“Di aceh sendiri, kasus cedera kepala dan stroke umumnya meninggal dunia karena keterlambatan rujukan,” katanya.

Selain itu, fasilitas RS rujukan belum memiliki standar pelayanan optimal dalam pelayanan Bedah Saraf. Kita patut bersyukur Perspebsi tidak tinggal diam melihat fakta masih sedikitnya tenaga kesehatan di bidang Bedah Saraf.

“Semoga pertemuan ini mampu menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi perkembangan dunia medis di tanah air,” tutur Nova.

Ketua Panitia DR. dr. Imam Hidayat, M.Kes, Sp.BS(K) mengatakan, kegiatan tersebut diikuti langsung oleh 350 peserta selama 2 hari. Mereka mendapat 80 paparan topik yang dibawakan oleh 77 pembicara dari dalam dan luar negeri.

Kegiatan PIT kali ini dirangkai dengan kegiatan lain yakni pelatihan (Workshop) berskala nasional tanggal 25 Juli 2021, simposium mini tanggal 26 Juli 2021 dan Bakti Sosial 28 Juli 2021.

Hadirkan 8 Instruktur

Tiga pelatihan telah diadakan yakni Workshop Neuronavigasi untuk ahli Bedah Saraf di Indonesia dengan instruktur dr. Zainy Hamzah Sp.BS dan dr. Syafrizal Abubakar Sp.BS. Workshop Penanganan Emergensi Kasus Bedah Saraf, untuk Dokter Umum Indonesia oleh instruktur dr. T. Yose M.A, M.Ked, Sp.BS, dr. T. Jauhardin Sp.BS, dan dr. Nasrul Musadir Sp.S(K). Workshop Keperawatan Kasus Bedah Saraf untuk Perawat di Indonesia oleh instruktur Enny Mulyatsih, M.Kep Sp. KMB dkk dari HIPENI (Himpunan Perawat Neurosain Indonesia). Adapun simposium mini dilakukan bekerjasama dengan IDI Pidie, dengan pembicara utama Dr. Syafrizal Abubakar, Sp.BS dari Jakarta dan dr. T. Jauhardin Sp.BS ahli Bedah Saraf di RSUD Kota Sigli.

Bakti sosial dilakukan berupa penanaman pohon dan pemberian bantuan pada Dayah Darussaudah di Tangse, Kabupaten Pidie pada hari berikutnya oleh Perspebsi Cabang Aceh.

Untuk menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan ini dua Pengurus Pusat Perspebsi ikut turun langsung ke Aceh, yakni dr. Zainy Hamzah Sp.BS dan dr. Syafrizal Abubakar Sp.BS, seorang dokter Bedah Saraf senior di Indonesia yang berdarah asli aceh.

“Saya sebagai orang Aceh turut bangga. Kami sangat senang acara PIT Bedah Saraf berlangsung sukses. Harapan kita bersama, Bedah Saraf di Aceh kedepannya dapat menjadi contoh pelayanan terbaik bagi daerah lain di Indonesia, agar angka kematian akibat kasus-kasus Bedah Saraf di seluruh Indonesia dapat ditekan,” ujar Syafrizal.

Sekretaris Perspebsi Aceh dr. Iskandar Sp.BS menuturkan, saat ini Aceh memiliki angka kematian yang cukup tinggi pada kasus Bedah Saraf, terutama cedera kepala dan stroke perdarahan.

Di sisi lain, untuk melayani 5,3 juta penduduk, hanya ada 6 tenaga ahli Bedah Saraf di Aceh saat ini. Empat diantaranya di RSUDZA (dr. Bustami Sp.BS, dr. Imam Hidayat Sp.BS, dr. Iskandar Sp.BS dan dr. T. Yose Sp.BS), lainnya di RS Kesdam Iskandar Muda (Letkol Ckm dr. Bayu Dewanto Sp.BS) dan RSUD Cik DiTiro Sigli (dr. T. Jauhardin Sp.BS).

Diharapkan kedepannya Pemerintah bersama Perpebsi Aceh dapat mewujudkan ketersediaan tenaga ahli Bedah Saraf di seluruh daerah di Aceh, dengan fasilitas yang optimal.

“Saat ini Perspebsi Aceh berkomitmen melakukan pengembangan subdivisi Bedah Saraf (sub-spesialisasi) yang meliputi neuro-fungsional, neuro-spine, neuro-pediatrik, neuro-vascular, neuro-trauma, saraf perifer, dan neuro-onkologi di Aceh. Salah satunya menggiatkan acara ilmiah dan update keilmuan seperti acara ini,” Ucapnya. (*)

  • Bagikan